Breaking

Minggu, 14 April 2019

Sejarah Gumi Sasak Di Pulau Lombok



Gumi Sasak merupakan sebuah tempat bagi orang-orang Sasak menggantungkan harapan dan kehidupannya. Di tanah tersebut, orang-orang Sasak melakukan serangkaian proses kehidupan dari generasi ke generasi dan melahirkan bagian-bagian penting yang harus diketahui oleh generasi mudanya. Kesuburan tanahnya mampu menopang kehidupan orang-orang Sasak karena sumber air yang mengalir dari gunung Rinjani secara terus-menerus,sehingga menjadi berkah tersendiri bagi orang-orang Sasak.

Dari beberapa catatan dan informasi, asal-usul suku Sasak yang mendiami pulau Lombok adalah ras Mongoloid di AsiaTenggara. Penemuan situs sejarah yang paling penting untuk mengetahui kehidupan prasejarah di Gumi Sasak adalah penemuan benda-benda arkeologis di Gunung Piring, Truwai, kecamatan Pujut kabupaten Lombok Tengah. 

Adapun yang ditemukan adalah periuk utuh, kereweng, kerangka manusia, sisa kulit kerang, arang, fragmenlogam dan binatang. Sumber informasi sejarah lainnya diperoleh dari cerita-cerita rakyat, babad lontar dan peninggalan berupa makam maupun masjid. Pada saat ini pulau Lombok didiami oleh percampuran antara suku Sasak dengan suku-suku dari Jawa,Sulawesi, Kalimantan, Sumatera, Bali, dan Nusa Tenggara.

Sebagian kecil lainnya terdapat masyarakat keturunan China dan Arab. Pada tahap selanjutnya, seiring dengan adanya berbagaimacam pengaruh dari luar, muncul sebuah aliran kepercayaan yang disebut Boda. Boda bukanlah agama Budha tetapi bertumpu pada aanasir Animisme, Dinamisme, Panteisme, dan Antropomorfisme.Oleh sebab itu, pemujaan dan penyembahan roh-roh leluhur dan berbagai dewa lokal lainnya merupakan fokus utama dari praktek keagamaan Sasak-Boda. 

Sementara agama Budha dan Hindumenjadi anutan nenek moyang suku Sasak setelah mereka berada di bawah kekuasaan Sriwijaya dan Majapahit. Pada saat itu kerajaanSriwijaya dan Majapahit memiliki pengaruh kekuasaan yang meliputiseluruh wilayah nusantara.

Sebagian besar penduduk Gumi Sasak adalah pemeluk agama Islam, sisanya penganut agama Hindu, Budha dan sebagian kecil beragama Kristen. Kehidupan antar umat beragama berjalan rukundan damai. Kegairahan umat Islam dalam menjalankan kehidupan beragama terlihat dalam membangun tempat peribadatan, sehingga hampir di seluruh tempat di pulau Lombok terdapat masjid. Itulah sebabnya pulau Lombok dikenal juga sebagai Pulau Seribu Masjid.

Sebelum penyebaran agama Islam datang ke pulau Lombok,masyarakat Lombok percaya akan adanya roh-roh nenek moyang,kepercayaan ini disebut animisme. Selain itu, masyarakat juga percaya bahwa setiap benda memiliki kekuatan gaib, kepercayaan inidisebut dinamisme. Agama Islam berkembang dengan cepat di Gumi Sasak karena menggunakan pendekatan tasawuf dalam penyebarannya.

Ajaran Islam tasawuf menjadi suatu ketertarikanutama bagi masyarakat suku Sasak karena pada umumnya ajaran inimengajarkan dimensi mendalam dalam pemahaman ketuhanan dankeagamaan. Ajaran Tasawuf ini pulalah yang kemudian menjadiacuan umum dalam membentuk sikap dan tindakan (perilaku) masyarakat Sasak.

Di sisi lain pemahaman yang belum mendalamdan adanya pengaruh Hindu memunculkan Islam Wetu Telu. IslamWetu Telu merupakan sinkretisme (gabungan) dari ajaran Islam danHindu.Di dalam babad dan lontar, disebutkan beberapa kerajaanyang pernah ada di pulau Lombok.

Diantaranya adalah: kerajaanDesa Lae', Suwung, Pamatan, Selaparang, Lombok, Mumbul, Pemokong, Bayan, Sokong, Langko, Penjanggik, Parwa, Kedaro,Karangasem Lombok (Singasari) dan Mataram. Beberapa kerajaan lainnya meliputi desa-desa (wilayah) kecil yang disebut Kedatuan.   Di masa lalu, kehidupan masyarakat suku Sasak berada di bawah tekanan kaum penjajah (kerajan Bali, Belanda dan Jepang)dalam waktu yang sangat lama.

Hal yang patut disyukuri kemudianadalah diproklamasikannya kemerdekaan Republik Indonesia padatanggal 17 Agustus 1945. Dalam prosesnya, negara baru Republik Indonesia terus mengalami berbagai, perubahan bentuk negara,hingga akhirnya kembali lagi ke dalam bentuk Negara Kesatuan
Republik Indonesia (NKRI) pada tanggal 15 Agustus 1950. Kedua peristiwa itu merupakan tonggak penting dimana masyarakat Sasak mampu berdiri sebagai manusia-manusia merdeka seperti anak  bangsa lainnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Halaman